Ramai-ramai Cari Solusi Siasati Resesi

Solusi Siasati Resesi

Meski sulit untuk dihindari, para pelaku industri properti dituntut untuk mencari jalan keluar jika masih ingin bertahan dan tetap dapatkan cuan

Homepoint.id, Jakarta- Bayang-bayang resesi sudah nampak di depan mata. Kekhawatiran terjadinya pelambatan ekonomi kian nyata terlebih pandemi covid-19 yang disinyalir sebagai salah satu sebab utama terjadinya resesi masih belum selesai.

Akibat dari pandemi, sampai saat ini masih banyak negara yang memberlakukan lock down sehingga berpengaruh langsung terhadap berhentinya perputaran uang dan roda perekonomian.

Belum lagi inflasi yang terus meninggi juga turut mengerek kenaikan sejumlah harga barang. Seperti diketahui, properti yang secara industri membawahi sekurang-kurangnya 130 usaha turunan kondisinya kini tengah tertekan hebat lantaran hal tersebut.

Ini tentu bukan hal menggembirakan bagi para pelaku properti nasional yang harus tetap survive dan efektif di antara tantangan-tantangan itu.

Secara umum resesi ekonomi adalah periode saat terjadi penurunan roda perekonomian yang menjadi penanda lemahnya produk domestik bruto (PDB) selama dua kuartal berturut-turut.

Resesi juga ditandai dengan kenaikan tingkat pengangguran, penurunan penjualan ritel dan terjadinya kontraksi di pendapatan manufaktur untuk periode yang panjang. Dengan kata lain, resesi adalah pelambatan dalam kegiatan ekonomi.

Di tengah guncangan tersebut, Indonesia masih perlu banyak bersyukur lantaran Indonesia sebenarnya sudah mengambil jalan damai dengan covid meski belum bisa hidup berdampingan seutuhnya.

Dalam sebuah kesempatan Sri Mulyani mengungkapkan ada negara-negara yang terbilang cukup baik ekonominya dan kuat dari guncangan resesi mendatang. Indonesia, menurutnya, merupakan salah satunya. Pasalnya, Indonesia sendiri telah berdamai dengan covid dan kembali bertumbuh perekonomiannya sejak kuartal II 2020.

Katanya, pertumbuhan ekomoni Indonesia tercatat di angka 5,44% dan tingkat inflasi masih terkendali di 5,9%. Selain itu suku bunga bank di Indonesia relative terjaga baik dimana BI kembali menaikkan suku bunga acuan pada Oktober 2022 menjadi 4.75% yang turut berpengaruh pada bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) perbankan.

Dengan fakta tersebut, Indonesia mestinya masih bisa sedikit atur nafas guna menempuh jalan panjang bertahan di kondisi ekonomi dunia yang masih goyang kanan- goyang kiri.

Bagaimana dengan Properti?

Nah, untuk sektor properti sendiri, setiap terjadinya siklus energi booming, maka akan diikuti oleh properti booming. Misalnya pada 2003, pasar properti terus melonjak sejak krisis ekonomi 1998. Begitu juga pada 2012, properti malah melonjak setelah krisis dunia pada 2008 dikarenakan harga komoditas yang naik 2 kali lipat diikuti harga properti yang semakin meroket dikarenakan permintaan pasar tinggi dengan supply yang rendah serta tingginya likuiditas masyarakat.

Dan, pada 2023 sebenarnya properti booming dapat kembali terjadi dikarenakan harga komoditas bisa naik hingga 4 kali lipat yang disertai melonjaknya harga konstruksi yang menyebabkan supply properti menurun namun demand akan tetap tinggi akibat suku bunga bank yang rendah.

Belum lagi dengan kepemilikan properti bagi WNA semakin dimudahkan dan harga tanah yang cenderung stabil, properti akan semakin menjadi incaran bagi mereka yang ingin berinvestasi secara aman. Namun, untuk benar-benar booming rasanya harus ulur urat sabar lebih panjang lagi mengingat kondisinya belum aman sepenuhnya.

Sebagai contoh pada apartemen misalnya. Meski beberapa tahun ini tren permintaan apartemen bisa dikatakan loyo, namun laju positif terus ditunjukan hunian vertikal ini dengan adanya peningkatan permintaan dan kunjung naik karena didasari motivasi investasi.

Faktor harga yang stagnan dan cenderung turun dalam satu tahun terakhir juga disinyalir menjadikannya menarik untuk instrument investasi, terutama pada pasar sewa harian dan bulanan.

Hal itulah yang dialami oleh Skandinavia Apartmen, salah satu pemasok unit-unit hunian bertingkat di Tangerang yang terintegrasi dalam satu kawasan superblock Tangerang City.

Norman Eka Saputra, Vice President Director Skandinavia Apartment mengatakan bahwa pihaknya melihat kondisi saat ini sebenarnya merupakan momentum yang pas dan tepat untuk berinvestasi.

“Kami melihat ini merupakan momentum yang tepat untuk menggaet pasar yang tertarik untuk aman berinvestasi,” jelas Norman saat ditemui di Tangerang, Jumat (16/12/2022) lalu.

Tinggal bagaimana pengembang berkreasi dan menentukan program-program jitu agar layak diminati dan dipercaya oleh konsumen. Seperti yang dilakukan Skandinavia misalnya.

Apartemen ini menghadirkan solusi investasi di persiapan menghadapi resesi dengan meluncurkan dua konsep menarik yakni, buyback guarantee dan rental guarantee.

“Ini merupakan solusi yang cerdas untuk berinvestasi aman dan mensiasati resesi 2023 mendatang,” ujar norman lagi.

Katanya, buyback guarantee akan meminimalisir risiko kerugian pembeli karena pengembang memberikan jaminan investasi dengan pengembalian uang dan jaminan nilai sewa 5% per tahun.

Selain itu, dengan rental guarantee, jaminan unit pasti tersewa juga akan diberikan sehingga investment yield & capital gain dapat mencapai hingga 15%. “Jadi investasi di Skandinavia Apartment otomatis bebas resiko. Risk Free!,” lugasnya.

Termasuk mengusung strategi memberikan harga menarik dan sudah termasuk dengan fully furnished sehingga unit siap diserahterimakan dan siap huni juga menjadi solusi cerdas yang patut ditempuh pengembang.

Hal lain yang juga bisa menjadi solusi bagi pengembang adalah dengan menyesuaikan konsep produk mereka. Istilahnya adalah membuat product post pandemic.

Lihat bagaimana yang dilakukan oleh ARMLand, pengembang kreatif yang lewat produk teranyarnya yaitu Grand Azalea Garden menawarkan hunian tapak dengan seluruh unit rumahnya dirancang seolah seperti rumah sudut (hoek) melalui pengembangan konsep “The Corner”.

Tim desain dan arsitektur ARM Land mengonsep rumah-rumah di Grand Azalea Garden semi detached atau kopel dua-dua sehingga masing-masing unit memiliki taman di salah satu sisi rumahnya.

Konsep tersebut hadir untuk menyesuaikan dengan situasi new normal terkait pandemi Covid-19. Sisa lahan sudut tersebut bisa digunakan penghuni untuk berjemur (sun room), menanam tanaman atau sekadar mandi matahari pagi (sun bathing).

Selain berplafon tinggi, rumah ini juga dirancang memiliki cross ventilation (sirkulasi menyilang) dengan tiga bukaan (pintu depan, samping dan belakang) yang saling berhadapan dalam satu ruangan.

Fungsi cross ventilation untuk membuat sirkulasi udara atau perputaran angin di dalam ruangan bisa berjalan terus  menerus sehingga udara di dalam ruangan bisa segera digantikan dengan udara segar dari luar.

“Ini kelebihan rumah di Grand Azalea Garden. Konsep rumah sehat dengan berbagai tipe ini kami sematkan untuk memudahkan masyarakat beraktivitas saat situasi new normal dan bisa tetap sehat. Konsep tersebut di sini belum banyak,” terang Amin Maulana, CEO ARMLand Group.

Dengan menyasar konsumen kalangan pasangan muda baru menikah, single urban maupun yang sudah berkeluarga, yang tengah mencari rumah dekat BSD City, Kota Gading Serpong dan Lippo Village Karawaci dengan akses dekat tol, kereta maupun fasilitas komersial, konsep seperti yang ditawarkan Grand Azalea Garden sangat menarik.

“Kita perumahan paling dekat pertama di sekitar Stasiun Parung Panjang dan Lippo Karawaci. Yang lainnya masih terus ke arah Curug. Target utama pembeli adalah pekerja pabrik-pabrik level supervisor, manajer dan wiraswasta radius 5-8 kilometer,” tandasnya.

Dengan segala tantangan dan kendalanya, sektor properti masih menyimpan pesonanya yang berkilau. Para pelaku industri ini harus tetap berpikir dan berbuat lebih jika ingin terus bertahan dan sukses.

Tak mudah memang, tapi seperti kata pepatah : Masih Banyak Jalan Menuju Roma.

Exit mobile version