Homepoint.id, Jakarta- Dulu ya, yang jadi motivasi saya bekerja, salah satunya adalah agar bisa nabung beli rumah.
Pekerjaan profesional pertama sebagai wartawan di salah satu media bisnis segmented dengan gaji yang, “ahh Sudahlah”, sebisa mungkin saya sisihkan sedikit demi sedikit untuk DP rumah.
Dari pekerjaan sebelumnya yakni guru Bahasa Inggris di TK, gaji saya selama setahun dikumpulkan hanya untuk bisa daki Semeru, Sendiri di Januari delapan belas tahun lalu.
Akhirnya dengan memantapkan Nawaitu dan Kumpulan tabungan yang ada, keputusan ambil rumah diwujudkan dengan total down payment sebesar 30 juta rupiah.
Koq besar? Karena di zaman itu saja, rumah Subsidi di wilayah Kami sudah tidak ada. Kalaupun mau dapat rumah subsidi, itu di daerah bawah atau mau tidak mau harus menelusup ke daerah Cibitung, Cibarusah Atawa Cikarang.
Dengan kata lain, saya membeli rumah komersil yang secara luasan lahan bisa buat bangun lapangan mini soccer jika digabung dengan empat rumah di kanan kirinya.. Haha
Alhamdulillah..
Masa tenor cicilan rumah tersebut selama 15 tahun, yang in syaa Allah dalam dua tahun ke depan bakal selesai. Ga kerasa ya, udah sebentar lagi.
Hhh, enak aja ga kerasa. Empot-empotan saya ngejalaninnya.
Apalagi saat sempat tidak bekerja dan dihantam badai Covid, untuk cicilan bulanan yang rada gede, pernah suatu waktu saya sampai jual Macan Kesayangan di kandang.
Walhasil, di awal-awal masa cicilan, sorry to say, masa lajang saya sungguh tidak berkesan. Jarang jalan-jalan, beli gadget incaran apalagi kendaraan, tidak pernah Traktir pacar makan di restoran kecuali saat kondangan, juga tidak pernah ajak keluarga liburan.
Tapi, setiap kali calon mertua tanya punya apa? Saya jawab punya rumah sambil nepuk dada. “Anak bapak dan ibu tidak akan keleleran mau tinggal di mana setelah pernikahan”.
Kini di tengah wacana pemerintah memberlakukan peraturan mengenai tabungan rumah sebesar 3% dari potongan gaji karyawan 2,5% dan perusahaan 0,5%, Jujurly, saya mendukung program ini.
Sejatinya, pemerintah sedang berusaha membantu rakyatnya agar bisa memiliki rumah dengan sedikit “dipaksa” dan tidak ketagihan menjadi penikmat keadaan yang kemudian bisa terjerembab ke dalam label Generasi Sandwich. (baca juga: https://homepoint.id/index.php/2023/04/05/mau-tak-mau-menjadi-generasi-sandwich/)
Hanya saja yang perlu menjadi catatan adalah, apakah benar nantinya potongan 3% ini diberdayakan betul untuk memiliki rumah? Bukannya mau Suudzan, namun dari hitung-hitungan sembarang ala Soleh Solihun saja, rasanya agak musykil bisa punya rumah tak kurang dari 100 tahun nabung.
Intinya, nabung rumah memang bukan perkara mudah. Perlu effort, doa dan perjuangan yang kudu perih serta tabah. Jangan sampai harapan masyarakat akan Tapera berubah dari Tabungan Perumahan Rakyat menjadi Tabungan Penderitaan Rakyat.
Apalagi di tengah susahnya mencari kerja, banyak orang yang kemudian takut untuk masuk ke dunia kerja karena ada potongan tersebut, seraya berharap ada tuah turun dari langit secara cuma-cuma.
Akhir kata, meski masih banyak yang ingin diungkapkan di kepala, mari terus jaga lentera ikhtiar kita.
Ingat! Kita, eh saya aja deh, bukan orang yang lahir dengan keberuntungan tapi sudah untung dilahirkan. Maka untuk terus bahagia, harus terus bersyukur dan berusaha.
Semoga Allah senantiasa membersamai Kita.
Ihdina ya Rabb
(Merupakan opini pribadi oleh : Aziz Fahmi Hidayat, Redaksi Homepoint.id)








