Ringkasan :
- Permintaan ruang kantor mulai bergeser dari sekadar penyesuaian luas ruang menuju relokasi, perpindahan ke gedung berkualitas lebih baik, serta ekspansi usaha secara selektif.
- Permintaan ruang kantor di Jakarta sepanjang 2026 diproyeksikan mencapai 198.555 m², seiring meningkatnya aktivitas penyewaan.
- Pemulihan pasar perkantoran Jakarta masih belum merata. Gedung kelas Premium mulai memiliki posisi tawar yang lebih kuat dalam menentukan harga sewa dibandingkan gedung di kelas lainnya.
- Tingkat kekosongan ruang kantor di Jakarta diproyeksikan turun dari 25,7% pada akhir 2026 menjadi 21,1% pada 2029.
Homepoint.id, Jakarta- Memasuki kuartal ketiga 2026, pasar perkantoran Jakarta mulai menunjukkan perkembangan yang semakin beragam.
Selain relokasi, penyesuaian kebutuhan ruang, dan perpindahan ke gedung dengan kualitas lebih baik (flight-to-quality), sejumlah perusahaan mulai memperlihatkan kebutuhan tambahan ruang kantor untuk mendukung ekspansi bisnis mereka.
Setelah beberapa tahun permintaan ruang kantor lebih banyak didorong oleh penyesuaian luas ruang dan relokasi, kini mulai terlihat perusahaan yang membutuhkan ruang tambahan seiring diperolehnya proyek-proyek baru maupun berkembangnya aktivitas bisnis mereka.
Ferry Salanto, Head of Research, Colliers Indonesia, mengatakan bahwa, “Pola pemulihan pasar perkantoran Jakarta mulai menunjukkan perubahan. Setelah beberapa tahun didominasi oleh penyesuaian kebutuhan ruang, kini mulai terlihat sejumlah perusahaan yang melakukan ekspansi, di samping aktivitas relokasi dan perpindahan ke gedung dengan kualitas lebih baik. Ini merupakan perkembangan yang positif.
Namun, pemulihan pasar secara keseluruhan masih belum merata. Hal yang perlu dicermati selanjutnya adalah apakah kebutuhan ekspansi tersebut akan semakin meluas sehingga mampu mendorong penyerapan bersih ruang kantor secara berkelanjutan.”
Baca juga :
Permintaan ruang kantor sepanjang 2026 diproyeksikan mencapai 198.555 m², didukung oleh meningkatnya aktivitas penyewaan. Munculnya kebutuhan tambahan ruang untuk ekspansi usaha, meskipun masih terbatas pada sejumlah perusahaan, menjadi sinyal positif setelah beberapa tahun keputusan penyewaan lebih banyak didorong oleh penyesuaian luas ruang, relokasi, dan optimalisasi tempat kerja.
Meski demikian, sebagian besar transaksi penyewaan masih berupa perpindahan penyewa dari satu gedung ke gedung lainnya, sehingga belum sepenuhnya menghasilkan tambahan ruang kantor yang terisi secara keseluruhan.
Pemulihan Pasar Perkantoran Berlangsung dengan Kecepatan yang Berbeda
Tingkat hunian gedung perkantoran di kawasan CBD Jakarta mencapai sekitar 76,3% pada kuartal ketiga 2026. Gedung dengan kualitas lebih tinggi masih menunjukkan kinerja yang lebih baik, dengan rata-rata tingkat hunian mendekati 78% untuk gedung Grade A dan hampir 84% untuk gedung Premium. Bahkan, sejumlah gedung Premium telah mencatat tingkat hunian di atas 90%.
Kondisi ini memperkuat posisi tawar pemilik gedung dalam mempertahankan harga sewa sekaligus mengurangi insentif yang diberikan kepada penyewa.
Sebaliknya, gedung dengan tingkat kekosongan yang masih tinggi harus terus bersaing melalui penyesuaian harga sewa, pemberian insentif, dan ketentuan sewa yang lebih fleksibel. Kondisi ini menunjukkan bahwa pemulihan pasar perkantoran Jakarta berlangsung dengan kecepatan yang berbeda.
Gedung berkualitas tinggi dengan tingkat hunian yang kuat dan ketersediaan ruang terbatas mulai memiliki posisi tawar yang lebih baik dalam menentukan harga sewa, sementara gedung lainnya masih menghadapi persaingan yang ketat.
Preferensi Penyewa Bergeser dari Kualitas Gedung ke Nilai Manfaat yang Ditawarkan
Perusahaan kini semakin selektif dalam memilih ruang kantor. Lokasi, kemudahan akses transportasi, dan kualitas gedung tetap menjadi pertimbangan utama. Namun, penyewa juga semakin memperhatikan manfaat keseluruhan yang ditawarkan, mulai dari kualitas pengelolaan gedung, penerapan prinsip ESG, kelengkapan fasilitas, kebutuhan penataan interior (fit-out), kesiapan ruang untuk digunakan, hingga total biaya yang harus dikeluarkan selama menempati kantor.
Tren perpindahan ke gedung berkualitas lebih baik (flight-to-quality) kini mulai berkembang menjadi pertimbangan terhadap nilai manfaat yang diperoleh (flight-to-value). Perusahaan tidak lagi sekadar mencari gedung yang lebih baru, tetapi juga mempertimbangkan apakah peningkatan kualitas gedung, kemudahan akses, dan kenyamanan serta efektivitas lingkungan kerja sebanding dengan biaya tambahan yang harus dikeluarkan.
Di sejumlah lokasi, selisih harga sewa antarkelas gedung yang relatif kecil membuat perpindahan ke gedung dengan kualitas lebih tinggi menjadi pilihan yang masuk akal secara bisnis, termasuk bagi perusahaan yang tetap mengutamakan efisiensi biaya.
Permintaan Ruang Kantor Siap Pakai Semakin Meningkat
Salah satu tren yang semakin menonjol di pasar perkantoran Jakarta adalah meningkatnya minat penyewa terhadap ruang kantor yang telah ditata, dilengkapi furnitur, dan siap digunakan.
Biaya awal untuk penataan interior kantor (fit-out) sering kali menjadi pertimbangan besar bagi perusahaan, bahkan ketika relokasi atau perpindahan ke gedung yang lebih baik sebenarnya diperlukan untuk mendukung kegiatan bisnis.
Ketersediaan ruang kantor siap pakai dapat membantu perusahaan menekan biaya investasi awal sekaligus mempercepat dimulainya kegiatan operasional.
Meski menawarkan berbagai kemudahan, ruang kantor siap pakai tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing perusahaan. Tata ruang yang sudah tersedia harus dievaluasi berdasarkan pola kerja karyawan, jumlah tenaga kerja, kebutuhan operasional, serta rencana pertumbuhan perusahaan ke depan.
Dengan demikian, meskipun ruang kantor yang telah selesai ditata dapat menghemat waktu dan biaya, pengaturan ruangnya tetap harus mampu mendukung kebutuhan dan aktivitas perusahaan secara efektif.
Dengan perubahan preferensi tersebut, pertimbangan penyewa kini mulai bergeser. Pertanyaannya bukan lagi sekadar “Seberapa murah harga sewanya?”, tetapi juga “Seberapa mudah dan efektif ruang kantor ini dapat digunakan?”
Baca juga :
Ketika Kuantitas Tak Lagi Prioritas: Perkantoran Jakarta
Di tengah meningkatnya perhatian perusahaan terhadap efisiensi biaya investasi, penawaran ruang kantor yang menarik tidak hanya ditentukan oleh harga sewa yang kompetitif, tetapi juga kesesuaian tata ruang, ketersediaan furnitur, fleksibilitas ketentuan sewa, serta kualitas gedung secara keseluruhan.
Rahmat Alam, Head of Project Management, Colliers Indonesia, menambahkan, “Strategi penataan ruang kerja berbasis data dapat membantu perusahaan merencanakan kebutuhan kantornya secara lebih tepat, dengan mempertimbangkan masukan karyawan, data penggunaan ruang, serta kebutuhan bisnis.
Pendekatan ini sangat relevan bagi perusahaan yang sedang merencanakan relokasi, perpanjangan kontrak sewa, penggabungan ruang kantor, renovasi, maupun penambahan jumlah karyawan di masa mendatang.”
Hal ini sejalan dengan kajian Colliers berjudul “Workplace Strategy: How to Improve Space Efficiency, Employee Well-being and Productivity”, yang menekankan bahwa strategi penataan
ruang kerja tidak hanya berkaitan dengan perhitungan kebutuhan luas kantor. Lebih dari itu, strategi ini bertujuan menciptakan lingkungan kerja yang mendukung pencapaian tujuan perusahaan, meningkatkan efektivitas operasional, serta memperhatikan kenyamanan dan kesejahteraan karyawan.
Pola Permintaan Ruang Kantor Menjadi Indikator Utama Pemulihan Pasar
Pasar perkantoran Jakarta diperkirakan akan terus membaik secara bertahap hingga 2027. Namun, keberlanjutan pemulihan tidak hanya ditentukan oleh besarnya volume transaksi penyewaan, tetapi juga oleh sumber permintaan itu sendiri.
Hal yang perlu dicermati adalah apakah kebutuhan ruang tambahan untuk ekspansi usaha akan semakin meluas sehingga mampu mendorong penyerapan bersih ruang kantor secara berkelanjutan.
Bagi penyewa, kondisi pasar saat ini masih memberikan kesempatan untuk melakukan relokasi, meningkatkan kualitas ruang kantor, atau menegosiasikan kembali ketentuan sewa sebelum persaingan mendapatkan ruang di gedung-gedung berkualitas semakin ketat.
Sementara itu, bagi pemilik gedung, peluang yang tersedia akan berbeda bergantung pada kondisi masing-masing properti. Gedung Premium dengan tingkat hunian tinggi berpotensi memiliki posisi tawar yang semakin kuat dalam menentukan harga sewa.
Sebaliknya, gedung dengan tingkat kekosongan yang masih tinggi perlu meningkatkan daya saing melalui penawaran ruang kerja yang lebih menarik dan ketentuan sewa yang fleksibel.








