- Indeks harga rumah sekunder nasional berbalik menguat 1,6% MoM pada Maret 2026, membalikkan kontraksi 1,2% di bulan sebelumnya
- Jumlah kota dengan kenaikan harga tahunan melonjak dari 6 menjadi 11 kota; menunjukkan pergeseran struktural yang belum pernah terjadi dalam 12 bulan terakhir.
- Volume suplai menyusut 8,1% di tengah enquiries yang tetap aktif; pasar bergerak menuju fase seller’s market.
Homepoint.id, Jakarta- Pasar properti sekunder Indonesia menutup Q1 2026 dengan catatan yang melampaui ekspektasi.
Berdasarkan laporan Flash Report April 2026 by Rumah123, harga rumah nasional tumbuh 1,6% secara bulanan (MoM) di bulan Maret, membalikkan kontraksi sebesar 1,2% yang sempat terjadi pada Februari lalu.
Namun angka nasional bukan yang paling menarik. Yang sesungguhnya mengubah narasi pasar yaitu: untuk pertama kalinya dalam setahun, 11 dari kota besar di Indonesia serentak mencatat kenaikan harga tahunan positif.

Sumber: Data internal Rumah123 (2026)
Hal ini bukan sekadar pemulihan, melainkan sinyal awal terjadinya desentralisasi struktural pasar properti Indonesia, yang biasanya didominasi oleh Kota Jakarta menuju ekosistem pertumbuhan yang lebih merata, didorong oleh infrastruktur, kebijakan, dan transformasi demografis.
Bulan Maret 2026 menandai dominasi kota-kota di luar Jakarta sebagai motor penggerak harga. Yogyakarta (+5,0% YoY), Denpasar (+4,5% YoY), dan Makassar (+4,4% YoY) memimpin klasemen kenaikan harga tahunan.
|
No |
Kota |
MoM |
YoY |
Faktor Pendorong Utama |
|
1 |
Yogyakarta |
+6,5% |
+5,0% |
Konektivitas Tol Solo-Jogja dan keterbatasan lahan pusat kota |
|
2 |
Denpasar |
+4,9% |
+4,5% |
Ekspansi basis pembeli melalui skema Second-Home Visa |
|
3 |
Makassar |
+4,9% |
+4,4% |
Hub ekonomi Indonesia Timur dengan dominasi pembeli muda |
|
4 |
Bekasi |
+1,2% |
+1,8% |
Spillover permintaan dari kawasan industri besar |
|
5 |
Bogor |
– |
+1,6^% |
Tingginya minat hunian berkonsep green and healthy living. |
|
6 |
Tangerang |
+2,7% |
+0,7% |
Dominasi township matang (BSD/Alam Sutera) yang stabil |
|
7 |
Depok |
+1,0% |
+0,2% |
Pertumbuhan koridor Sawangan pasca beroperasinya Tol Depok-Antasari |
|
8 |
Bandung |
+1,5% |
+0,9% |
Aksesibilitas KCIC Whoosh yang mengubah pola komuter. |
|
9 |
Semarang |
+2,5% |
+0,5% |
Integrasi ekonomi dalam koridor Joglosemar |
|
10 |
Surakarta |
+1,2% |
+0,8% |
Rebound signifikan pasca koreksi tajam di bulan Februari |
|
11 |
Medan |
– |
+1,2% |
Konsistensi pertumbuhan sektor logistik di Sumatera |
Ket:
Tabel: Performa Harga Rumah Sekunder (Maret 2026) Sumber: Data internal Rumah123 (2026)
Head of Research Rumah123, Marisa Jaya, memaparkan bahwa data ini merupakan sinyal kuat terjadinya desentralisasi pertumbuhan di pasar properti tanah air.
“Lonjakan jumlah kota yang mencatat kenaikan harga tahunan, dari 6 menjadi 11 kota – mengonfirmasi bahwa momentum pemulihan tidak lagi bersifat sporadis atau terpusat di satu wilayah. Kami melihat adanya pergeseran struktural ke kota-kota dengan fundamental ekonomi dan katalis infrastruktur yang kuat. Dengan suku bunga BI yang stabil di level 4,75% dan inflasi yang melandai ke 3,48%, kepercayaan diri pembeli untuk masuk ke pasar kini berada pada level tertinggi dalam setahun terakhir,” ujar Marisa.
Di tengah tren nasional yang membaik, Jakarta dan Surabaya masih mencatat kontraksi harga tahunan, masing-masing sebesar -0,5% dan -0,9% YoY. Jakarta secara khusus telah mengalami deflasi harga tahunan selama 12 bulan berturut-turut.
Baca juga:
Inflasi RI Terbang ke 4,76%, Harga Rumah Sekunder Malah ‘Diskon’ di Awal 2026
Ketika Keputusan “Beli” Rumah Ada di Tangan Ibu
Rumah123 mengidentifikasi kondisi ini sebagai fase “Price Discovery”. Meskipun Jakarta tetap menjadi destinasi populer kedua (11,1% share enquiries), pasar sedang melakukan koreksi untuk menyeimbangkan oversupply di segmen apartemen mewah dengan daya beli riil masyarakat. Namun, adanya kenaikan bulanan (+1,1% MoM) di Jakarta pada Maret ini memberikan indikasi awal bahwa harga mulai menemukan titik dasar (bottoming out) sebelum kembali menguat.
Indikator penting lainnya adalah menyusutnya volume suplai rumah sekunder sebesar 8,1% YoY. Berkurangnya stok di pasar, berbanding terbalik dengan pencarian (enquiries) yang terus aktif, menciptakan kondisi yang mendukung kenaikan harga jangka menengah.
“Pasar secara bertahap bergerak dari buyer’s market menuju seller’s market. Dengan insentif PPN DTP yang masih berlaku hingga akhir tahun dan kondisi makroekonomi yang kondusif, kami memproyeksikan Q2 2026 akan menjadi periode akselerasi bagi sektor properti sekunder,” tutup Marisa.
Rumah123 terus berkomitmen menjadi mitra tepercaya melalui kampanye #RumahUntukSemua, menyediakan data transparan dan solusi KPR terintegrasi bagi seluruh masyarakat Indonesia.







