Gonjang ganjing resesi sampai saat ini masih menghantui para pelaku industri properti nasional. Tak ubahnya persiapan menghadapi perang, ragam antisipasi pun disiagakan.
Homepoint.id, Jakarta- Sejujurnya, jika melihat beberapa tahun terakhir, tren dan gairah dalam investasi properti semakin tumbuh dan meningkat. Hal itu ditandai dengan laporan para konsultan properti yang menyebutkan bahwa permintaan hunian seperti rumah terus tumbuh termasuk investasi residensial di Indonesia juga meningkat. Utamanya pencarian rumah yang memiliki koneksi dengan transportasi massal.
Dari situ para pengembang properti pun mulai mengembangkan sektor bisnisnya, mulai dari pembangunan kota baru, mendekatkan diri dengan aksesibilitas terjangkau bahkan sampai membuat wisata baru dekat properti pun sudah mulai banyak dibangun. Ini semacam menjadi peluang menarik bagi yang sedang mencari produk investasi maka investasi properti.
Terlepas dari berbagai sentimen negatif seperti ancaman resesi hingga suku bunga yang tinggi pada tahun 2023, investasi properti disebutkan masih akan tetap menguntungkan. Justeru ada celah menarik dari resesi ini yakni adanya peluang emas untuk mendapatkan properti dengan harga dan bunga yang relatif lebih murah.
Nah, tinggal bagaimana pengembang memaksimalkan potensi produknya agar bisa menjadi pilihan terbaik dan terakhir bagi calon konsumen.
Sekadar memberi saran, Ferry Salanto, Senior Advisor Research Colliers Indonesia mengatakan bahwa properti berbasis transportasi massal (TOD) dinilai akan prospektif. Ia mencatat sepanjang tahun 2019-2022, laju penyerapan apartemen berbasis TOD tumbuh 10 persen, sedangkan apartemen non-TOD hanya tumbuh 4 persen. Meski demikian, secara keseluruhan, permintaan pasar apartemen belum kembali menguat jika dibandingkan pasar rumah tapak.
”Isunya adalah bagaimana membuat konsumen kembali membidik apartemen, punya daya beli, dan diberikan kemudahan untuk membeli,” ujarnya.
Sementara itu dalam Flash Report yang dirilis Platform Properti 99 Group dan Rumah 123.com dalam paparan Property Outlook 2023 yang digelar di Februari kemarin memperlihatkan, pasar rumah tapak seken cenderung terus tumbuh dan permintaan masih didominasi wilayah Jabodetabek.
Permintaan tertinggi tercatat di Tangerang, yakni 13,2 persen dari total permintaan rumah tapak di Indonesia pada bulan Februari 2023. Lokasi terpopuler kedua adalah Jakarta Barat dengan pangsa pasar 10,9 persen, diikuti Jakarta Selatan 10,3 persen.
Menurut Senior Vice President Marketing 99 Group Indonesia Bharat Buxani, Jabodetabek masih menjadi wilayah favorit karena ditopang pengembangan infrastruktur aksesibilitas yang terintegrasi dan fasilitas umum yang terjangkau serta berkualitas. Hal itu mendorong minat untuk memiliki properti di kawasan ini terus tumbuh positif dari waktu ke waktu.
Rumah Masih Favorit
Survei kecil Saya lakukan kepada sejumlah orang secara random yang saya temui di sekitaran Senayan terkait pilihan investasinya, rata-rata Mereka menyebutkan bahwa investasi rumah masih menjadi primadona yang bisa menguntungkan baik disaat resesi maupun setelah resesi.
Utamanya adalah rumah dengan harga jual di bawah Rp 1 Miliar sangat diminati oleh pembeli, terutama dikalangan anak millennial yang masih membutuhkan rumah untuk ditempati.
Termasuk dari sisi wilayah, konsistensi masyarakat dalam minat pencarian properti masih terkonsentrasi di wilayah Jabodetabek disebabkan karena posisinya sebagai wilayah metropolitan terbesar di Indonesia sekaligus menjadi pusat bisnis serta perekonomian.
Sebagai gambaran saja, harga rata-rata satuan rumah yang seken di Tangerang untuk luas kurang dari 60 m² adalah Rp 699 juta, rumah dengan ukuran 61-90 m² Rp 1,3 miliar, luas 91-150 m² Rp 2 miliar, rumah dengan luas 151-250 m² Rp 3,2 miliar, dan luas di atas 251 m² Rp 6,8 miliar.
Pun begitu untuk rumah di luar Jawa dalam laporan 99.co beberapa kota juga menunjukkan kenaikan permintaan rumah, seperti Makassar (Sulawesi Selatan) dan Denpasar (Bali). Peningkatan popularitas pencarian di Pulau Bali bertumbuh secara konsisten selama lima bulan terakhir. Meningkatnya minat pencari properti turut berdampak pada kenaikan indeks harga rumah seken.
Dari 13 kota dalam Indeks Harga Rumah Seken 99 Group dan Rumah123.com, Makassar dan Bogor mengalami kenaikan harga tahunan tercepat, masing-masing sebesar 7 persen. Adapun secara bulanan, kenaikan harga terbesar adalah Denpasar sebesar 0,2 persen, diikuti oleh Badung 0,1 persen.
Ada yang menarik dari laporan The Wealth Report 2023, yang dirilis Konsultan Properti Knight Frank. Di situ disebutkan bahwa Indonesia justeru masuk sebagai salah satu dari 100 negara yang memiliki pertumbuhan positif untuk harga hunian premium dan diperkirakan akan terus berlanjut di tahun ini.
Indonesia juga termasuk 20 besar negara yang menarik sebagai target investasi residensial premium bagi warga super kaya Asia Pasific, kategori high-net-worth individuals (HNWI) dengan kekayaan bersih di atas satu juta dollar AS.
Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia Syarifah Syaukat mengatakan, pertumbuhan harga hunian premium di Indonesia saat pandemi memang sempat terkoreksi, tetapi di tahun 2022 harga kembali menguat. Hal ini menunjukkan adanya ketertarikan para investor untuk berbelanja di pasar premium residensial Indonesia.








